
ANKARA – Rangkaian panjang Musyawarah Cabang Istimewa (Musycabis) ke-5 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki resmi ditutup pada Sabtu (15/2) di Ankara. Berbeda dengan dua hari sebelumnya, hari ketiga yang menjadi momen puncak ini diselenggarakan di Sinema Salonu, Ulucanlar Cezaevi Müzesi. Agenda utama pada hari penutup ini adalah pemilihan serta penetapan jajaran pimpinan baru PCIM dan PCIA Turki untuk periode 2026-2028.
Dinamika permusyawaratan terasa kental sejak pagi hari. Setelah sidang Komisi III dirampungkan, acara langsung dilanjutkan dengan Rapat Pleno IV yang dipimpin oleh Panitia Pemilihan (Panlih). Suasana semakin antusias ketika belasan calon formatur maju untuk memperkenalkan diri sekaligus memaparkan visi-misi mereka di hadapan para peserta. Proses pemungutan suara untuk formatur PCIM dan PCIA pun dilangsungkan dengan tertib secara berurutan pada siang harinya
Berdasarkan hasil rapat formatur tersebut, tongkat kepemimpinan PCIM Turki resmi diteruskan kepada Arif Dwi Saputra sebagai Ketua Umum terpilih, didampingi oleh Nanda sebagai Sekretaris Umum. Sementara itu, untuk Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Turki, posisi Ketua Umum diamanahkan kepada Alfina Rahmatia, dengan Neysa Rasionalis (dari PCIM Kütahya) sebagai Sekretaris Umum.
Acara dilanjutkan dengan prosesi serah terima jabatan (sertijab) secara simbolis dari Ketua PCIM demisioner, Ahmad Dhiyaul Haq, kepada Arif Dwi Saputra, serta dari Ketua PCIA demisioner, Dhira Cita, kepada Alfina Rahmatia. Setelah pembacaan pengesahan seluruh hasil keputusan, presidium resmi menutup rangkaian persidangan tepat pada pukul 15.26 waktu setempat dengan ketukan palu.
Dalam pesan purnatugasnya, Ahmad Dhiyaul Haq mengingatkan para kader bahwa rutinitas pelajar di luar negeri tidak akan cukup jika hanya berfokus pada akademik. “Ilmu saja tidak cukup; kita butuh amal dan ruang untuk bergerak. Di Muhammadiyah inilah kita mengambil peran untuk menjadi penggerak,” pesannya.
Semangat ini langsung disambut hangat oleh Ketua PCIM yang baru, Arif Dwi Saputra. Dalam pidato perdananya, ia mengajak seluruh teman-teman untuk tidak berjalan sendirian. “Kita harus saling merangkul untuk melewati rintangan di depan dan bersama-sama mengisi hidup dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua PCIA terpilih, Alfina Rahmatia, menyoroti secara khusus tantangan kaum perempuan. Ia menyebut bahwa perempuan sering kali menghadapi ketakutan dan keterpurukan dalam hidup. “Perempuan adalah awal dari sebuah peradaban. Ke depannya, PCIA harus bisa merangkul dan menggerakkan para perempuan untuk keluar dari keterpurukan dan mulai menghasilkan karya yang bermanfaat,” harap Alfina.
Setelah closing ceremony yang diisi dengan tilawah Al-Qur’an oleh Zahwan dan menyanyikan mars kebangsaan, panitia memberikan kejutan berupa “Award Dadakan” untuk mengapresiasi keunikan para peserta selama acara. Gelar-gelar seru seperti Si Paling Kamera (Salsabila Aminatuzzahra), Si Paling Konsumsi (Baiq Rahayu), Si Paling Gercep (Fajar Rendi), Si Paling Kocak (Thoriq Ridwan), Si Paling Darah Hijau (Hafidzan Arhab Juzwil), hingga Si Paling Semangat (Nasyah Fadilsya) sukses mencairkan ketegangan pasca-sidang dan memancing tawa peserta.
Seluruh rangkaian Musycabis ke-5 PCIM Turki ini pun ditutup dengan pembacaan doa oleh Andi Dinul Islam dan diakhiri secara resmi oleh pembawa acara pada pukul 16.14 waktu setempat.
Penulis: Muhammad Dihya Rafi Akhtar
Editor: Muhammad Dihya Rafi Akhtar